Showing posts with label Budidaya Katak Lembu. Show all posts
Showing posts with label Budidaya Katak Lembu. Show all posts

Saturday, January 5, 2013

Budidaya Katak Lembu

Di jagat maya, nama Hendro Setiawan (61) dikenal sebagai peternak katak lembu asal Desa Sumberejo, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri. Namun begitu dilacak ke desanya, nama Hendro ternyata tak dikenal. Maklum saja dia memang dikenal sebagai Yasin, peternak katak lembu yang sukses.

Tak populernya nama Hendro menyulitkan pencarian rumah laki-laki itu. Padahal lokasinya di tepi jalan besar, jurusan Kediri – Blitar lewat RS Baptis. Bangunannya pun cukup besar, mirip ruko dengan pintu warna biru. “Ruko” tersebut memang jarang sekali dibuka, tamu atau pemiliknya biasa keluar masuk lewat pintu samping.

Begitu terus masuk ke belakang rumah, langsung terlihat kolam-kolam berbagai ukuran, lengkap dengan atapnya dan dari kejauhan terdengar katak mengorek (bersuara) nyaring. Ya, kolam-kolam itu adalah kolam pembudidayaan bullfrog, atau yang akrab disebut katak lembu karena suaranya seperti suara lembu.

Amphibi bernama Latin Rana catesbeiana dan diyakini berasal dari Afrika - beberapa sumber mengatakan berasal dari Sungai Mississippi dekat wilayah Kanada - itu sejatinya tak jauh beda dengan kodok ijo yang banyak ditemui di sawah di pedalaman Jawa, namun ukuran tubuhnya lebih besar. Bahkan, ukurannya bisa 2 kali lipat kodok ijo.

Kata Hendro alias Yasin, katak berukuran jumbo tapi tampak gesit di dalam kolam itu jumlahnya mencapai 10 ribuan, sebagian sudah siap dilempar ke pasar dan sebagian lain masih menunggu satu atau dua minggu lagi untuk dipanen. Katak yang siap dipasarkan, kata dia, rata-rata berusia 7-8 bulan.

Katak yang siap dipanen dan dipasarkan, kata pria yang memulai budidaya katak lembu sejak 2002 ini, rata-rata beratnya 2,5 ons atau berisi 4 ekor per kilogram. Harga di tingkat peternak, Rp 20 ribu per kilogram. “Kemudian saya menjual ke sejumlah restoran di Surabaya, satu kilogramnya seharga Rp 25 ribu,” kata Hendro yang juga bertindak sebagai pengepul katak lembu.

Dia lantas mengaku, memasok 14 restoran di Surabaya yang memesan katak satu minggu sekali. Pasokan katak itu bukan hanya dari peternakan Hendro saja tapi tapi juga dari peternak lain. Di Kediri sekarang ada 5 peternak, di Pare 2 peternak, serta beberapa lainnya yang tersebar di Blitar, Tulungagung, dan sekitarnya.

“Mereka ini rata-rata setor hasil panenan ke saya dan kemudian saya yang kirim ke Surabaya. Setiap pekanya kami rata-rata bisa mengirim enam kuintal. Kalau pas hari baik atau hari besar China, permintaan dapat melonjak dua kali lipat,” jelasnya.

Hendro melanjutkan, para peternak ini sudah menjalin kerjasama sejak lama. Awalnya, mereka belajar beternak katak lembu kepada dirinya sampai bisa. Dia pula yang memasok bibit (kecebong atau percil) untuk mereka dan mengepul hasil panenan mereka.

“Kalau panen tidak banyak, mereka merasa rugi kalau harus mengirim sendiri ke Surabaya. Ongkos kirim dan tenaga dinilai tidak nyucuk (malah tidak menghasilkan). Karena itu mereka lebih suka kirim ke saya, jarak tempuh angkutannya dekat, meski harga jualnya terpaut Rp 5 ribu (lebih murah),” tambahnya.

Ceruk pasar katak lembu di Surabaya, imbuh pria yang juga berprofesi sebagai pemborong bangunan ini masih cukup luas. Namun dia dan rekan-rekannya baru bisa melayani rata-rata 6 kuintal per pekan. Penyebabnya, hasil peternakan di Kota Kediri dan sekitarnya masih terbatas. “Untuk Surabaya saja kurang padahal permintaan dari kota-kota lain di luar Surabaya juga cukup banyak.”

Bagi Hendro, beternak katak lembu adalah pekerjaan gampang-gampang susah. Kuncinya, telaten dan sabar. Kalau beternak mulai dari kecebong (anak katak yang masih berekor), panennya 8 bulan kemudian. Tapi, kalau mulainya dari percil (anak katak yang tidak berekor), dalam waktu 7 bulan sudah bisa panen. “Malah, kalau percilnya sudah besar atau usia 2 bulan, bisa panen 6 bulan kemudian,” katanya.

Katak indukan, lanjutnya, sekali bertelur bisa mencapai 10 ribu - 20 ribu butir. Telur yang masih lembut itu kemudian dipindahkan ke kolam tersendiri. Setelah menjadi kecebong dan menjadi percil, dipindah ke kolam lain yang berair dangkal.

Meski usia telur sama namun setelah menjadi percil dan katak, besarnya tidak sama. Katak-katak itu harus dipisahkan, yang besar-besar dikumpulkan dalam satu kolam tersendiri, demikian pula yang kecil-kecil. Itu untuk mencegah kanibalisme, perilaku alami katak lembu.

Hendro mengaku, dia pernah berupaya menularkan ilmu beternak katak lembu ke tetangganya, di Desa Sumberejo. Ada 2 warga yang berminat. Mereka belajar darinya, mulai dari pembuatan kolam, saluran air, memelihara kecebong, percil, hingga katak dewasa. Bahkan masalah pakan dan obat-obatan juga diajarkan.

Semula, usaha katak lembu mereka berjalan lancar. Nah, begitu melihat peluang yang menggiurkan, 2 murid Hendro itu menjadi terburu nafsu. Mereka langsung membuat lahan yang lebih besar dan menanam bibit lebih banyak dengan harapan bisa mendapatkan penghasilan yang lebih banyak. “Memang wajar, saya juga pernah seperti itu,” katanya.

Namun begitu katak terserang penyakit mata putih (semacam katarak) dan kaki merah, 2 murid Hendro itu pun kelabakan. Apalagi serangan penyakit itu cepat sekali menular bila tidak segera diketahui dan ditangani - dipisahkan antara katak sehat dengan yang sudah terserang penyakit. Akhirnya, ternak katak 2 murid Hendro itu ludes tak tersisa sehingga mereka rugi besar. “Sekarang mereka kapok, tidak berani lagi beternak katak lembu,” ungkap Hendro.

Hendro sendiri pernah tersandung masalah serupa. Pada 2004 dia mengalami puso (gagal panen). Saat itu ternak katak lembunya terserang penyakit hingga ribuan yang mati. Hendro merugi puluhan juta rupiah.

Meski demikian, dia masih sempat menyelamatkan sebagian kecil katak lembu yang sudah siap panen berkat gencarnya pengobatan. Begitu katak-katak dewasa itu sembuh, langsung terjual habis sehingga dia tidak memiliki katak yang siap panen.

Yang dia miliki hanya bibit katak lembu berupa kecebong, jumlahnya mencapai puluhan ribu ekor. Jelas butuh waktu cukup lama untuk bisa panen, paling tidak 8 bulan. Namun, dasar sudah menjadi rezekinya, tiba-tiba kawannya di Pare mengontaknya dan mengatakan butuh percil dalam jumlah banyak untuk memasok Dinas Perikanan Bali yang tengah menggelar program budiadya katak lembu.

Tanpa pikir panjang Hendro menyanggupi permintaan itu. Apalagi harga yang ditawarkan temannya lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga umum. “Dari percil itu saja saat itu, hasilnya bisa menyamai pendapatan panen raya,” kenang Hendro sambil tertawa.

Dia lantas mengungkapkan, kegagalan beternak katak lembu sering disebabkan karena kurang perhatian akan perliku kanibalisme itu. “Hama” lain yang juga banyak merugikan, imbuh Hendro, adalah kucing. “Satu kucing bisa memakan satu katak per hari, nah, kalau setiap hari kecolongan, hitung sendiri sebulan sudah rugi berapa,” terangnya.

Peristiwa gagal panen itu ternyata membawa hikmah tersendiri. Setelah punya pengalaman memasok bibit, kini Hendro jadi punya penghasilan sampingan dari menjual bibit katak lembu. Sekarang ini, harga seekor kecebong berumur satu bulan, Rp 100/ekor; percil usia 2-3 bulan harganya Rp 1.000/ekor.

Para peternak lain katak lembu yang sudah menjadi langganannya, rata-rata mengambil 1.000-3.000 ekor bibit. “Dari 1.000 ekor kecebong kalau bisa panen 300 ekor saja, sudah untung. Itu sudah dipotong biaya produksi. Apalagi kalau hidup semua,” pungkas Hendro.

Sumber :
http://biotani.blogspot.com/2011/08/budi-daya-katak-lembu.html

Friday, January 4, 2013

Cara Beternak Katak Lembu

Kriteria lokasi cara beternak katak lembu
Ketinggian lokasi yang ideal untuk budidaya kodok yaitu 1600 dpl.
Tanah tidak sangat miring tetapi dan tidak sangat datar, kemiringan ideal 1-5%, artinya didalam jarak 100 m jarak kemiringan pada ujung-ujungnya 1-5 m.
Air yang jernih atau sedikit tercampur lumpur ada selama hidup. air yang jernih akan memperlancar proses penetasan telur.
Kodok dapat hidup di air yang bersuhu 2–35 drajat c. suhu waktu penetasan telur adalah anata 24–27 derajat c, dengan kelembapan 60–65%.
Air mengandung oksigen lebih kurang 5-6 ppm, atau minimum 3 ppm. karbondioksida terlarut tidak kian lebih 25 ppm.
Dekat dengan sumber air dan diusahakan air dapat masuk dan keluar dengan lancar dan bebas dari kekeringan dan kebanjiran.

Persiapan fasilitas dan peralatan kolam.
Di dalam proses pembuatan kolam menurut cara beternak katak lembu, tidak bisa cuma menggali atau menimbun saja tetapi kudu memadukan keduanya hingga akan memperoleh wujud dan konstruksi kolam yang ideal. Buat memasukkan air ke dalam kolam dibutuhkan saluran yang konstruksinya dibikin dari pasangan bata merah atau batako yang diperkuat dengan semen dan pasir. Wujud dari saluran ini umumnya trapesium terbalik dan pada lebih dari satu area pemasukan air ke kolam dibikin kobakan kecil untuk menjebak air supaya gampang masuk kedalam kolam-kolam. Kolam yang dibutuhkan diantaranya : kolam perawatan kodok, kolam penampungan induk sebelum saat dikawinkan, kolam pemijahan, kolam penetasan, kolam perawatan kecebong, kolam pembesaran percil dan kolam pembesaran kodok remaja. keperluan kolam ini masih ditambah dengan kolam pemeliharaan calon induk.

Kolam perawatan kodok.
Luasnya 15 meter persegi dengan ukuran 3 x 5 m, yang terdiri dari dinding tembok 0, 40 m dan dinding kawat plastik setinggi 1 m, lantainya terbuat dari semen dan bata yang terdiri dari 2/3 bagian kolam terisi air setinggi 10-15 cm dan 1/3 bagian kering.

Kolam pemijahan.
Kolam dibikin dari semen dan diatasnya dinding kawat plastik. Kedalaman air di kolam ini lebih kurang 0, 30–0, 40 m dan ditengahnya dibuatkan daratan. Padat pemeliharaan 15 ekor tiap-tiap meter perseginya, dengan perbandingan tiga betina dan satu jantan. Agar lebih nyaman, baiknya lantai daratan sedang tidak berlumpur, dan kolam ditanami enceng gondok. Siapkan makanan berbentuk ikan kecil, ketam dan bekicot waktu kawin ditandai dengan nada merdu. tidak lama lantas, telur mereka mengambang di air kolam dan selekasnya dipindahkan ke kolam penetasan.

Kolam penetasan.
Kolam penetasan dibikin lebih dari satu buah, dari tembok dengan air sedalam 30 cm dan air mengalir atau diberi aerasi yang luas. luas kolam semuanya 10 m².

Kolam kecebong.
Terdiri dari lebih dari satu kolam yang masing-masing luasnya berkisar anta 5 m² – 6 m², dengan basic lantai terbuat dari semen.

Kolam kodok muda
Di kolam ini kodok yang dipelihara berusia kurang dari 2 bln.. dibikin lebih dari satu buah dengan masing-masing luasnya 15 m², dengan dinding tembok dan kawat. Lantai miring dengan tempat air 1/3 bagian dengan kedalaman 15–35 cm.

Kolam kodok dewasa.
Pada kolam ini kodok telah berumur pada 2–6 bln.. kolam yang dibutuhkan terdiri dari 2, dengan masing masing luas kira–kira 20 m², dengan konstruksi basic dan dindng tembok dan kawat. Kedalaman air yang dibutuhkan pada 30–40 cm.

Menyiapkan kolam produksi

Sistem pemijahan dengan alami.
Induk jantan dan betina yang sudah dipisah sepanjang 1-2 hari dikumpulkan di kolam pemijahan. Ikan liar bisa mengganggu hasil pemijahan. Lihat supaya telur kodok tidak turut terbuang air pembuangan. Di sore atau pagi hari pada waktu suhu mulai menurun, barulah kita butuh menolong kelancaran proses pemijahan, yakni membuat hujan buatan.

Sistem hipofisasi.
Langkah mutakhir buat memijahkan kodok yaitu dengan langkah sistem kawin suntik memakai ekstrak kelenjar hipofisa untuk merangsang kodok supaya kawin cocok waktu yang kita kehendaki. Dengan sistem ini kita dapat mengintensifkan pembenihan, kurangi kematian, merawat telur-telur kodok yang sudah dibuahi didalam area tersendiri, berikan jaminan bahwa telur-telur akan terbuahi oleh sperma semuanya dan tidak membutuhkan hujan buatan. Penyuntikan pada tubuh betina lazimnya pada punggung, rongga perut dan bagian kepala. Langkah penyuntikan pada rongga perut banyak dipilih.

Reproduksi dan perkawinan.
Kodok yang akan disuntik ditampung pada akuarium yang diberi sedikit air dan ditutup dengan kawat kasa buat memudahkan penangkapan. Kodok-kodok tersebut sudah cukup umur dan didalam kondisi masak telur. Waktu penyuntikan kodok dibalut dengan kain hapa supaya tidak meronta.

Kodok yang sudah disuntik lantas terlepas didalam akuarium lain dan dipantau tiap-tiap jam. sesudah 12 jam, kodok tadi disuntik kembali supaya mereka dapat bertelur semuanya. Sesudah yang betina 2 kali disuntik dan tunjukkan akan bertelur, jadi kita menyiapkan testis dari induk jantan. Sperma dikeluarkan dari testis dengan langkah memotongnya dengan jarum kecil yang tajam dan dimasukkan ke cawan petri yang telah berisi air kolam yang bersih. Sesudah air didalam cawan jadi keruh dan testis telah kosong, jadi cairan testis dibiarkan sepanjang 10 menit didalam suhu ruangan. Bila sperma aktif (dapat kita tengok di bawah mikroskop), jadi kodok betina bertelur diurut perutnya supaya telurnya keluar. Telur diusahakan jatuh diatas cairan sperma, lantas digoyang-goyangkan dan biarlah sepanjang lebih dari satu menit. Telur yang alami pembuahan akan alami rotasi.

Telur lantas ditetaskan dan airnya diganti tiap-tiap hari dengan melindungi suhu pada kisaran 24-27 derajat c dan ph air juga diamati. Pada sistem dengan alamiah, dipakai hujan buatan untuk merangsang proses perkawinan kodok, sebagaimana diterangkan di atas.

Pemeliharaan.
Pemeliharaan dikerjakan pada tiap-tiap step perkembangan kodok, perkembangan dan kesehatan kodok terrgantung pada makanan dan kecocokan area tinggalnya. Kodok diberi makan 1 kali 1 hari, air di kolam diganti dan dibersihkan seminggu sekali.

Sanitasi dan tindakan preventif
Telur yang telah dibuahi, dipindahkan pada kolam penetasan. Kolam dibersihkan dari hama dan kotoran sebelum saat dipakai. Telur kudu dipisahkan dari induknya hingga telur tidak terganggu proses penetasannya dan tidak dimakan oleh induknya. Memindahkan telur jangan sempat pecah sarangnya atau lendirnya. Telur-telur akan menetas sesudah 48–72 jam pada suhu air 24–27 derajat c. Apabila telah menetas dipelihara pada kolam yang sama sepanjang 10 hari.

Perawatan ternak.
Kodok muda yang sudah alami metamorphose diletakkan pada kolam permanen. Pemasukan dan pengeluaran air kudu diberi penyaring buat menghindari hama dan menghindar kodok lepas ke peraiaran umum. Padat penebaran 50-100 ekor/m². Apabila kita memelihara type kodok banteng yang tidak senang makanan yang tidak bergerak, makanan kudu ditempatkan di bawah aliran air/pancuran. Sesudah berusia 3 bln., kodok diseleksi menurut kaki belakang, kulit dan ukuran badannya. jumlah yang di seleksi 20% dari total dan dipindahkan ke kolam calon induk, namun sisanya terus dipelihara sampai waktu panen pada umur 4-5 bln.. kodok dewasa (masak gonada) untuk bibit unggul, baik jantan ataupun betina di suntik dengan kelenjar hiphopisa kodok sejumlah 1 dosis. Penyuntikan dikerjakan 1 bln. sekali (apabila menggunakan sistem hiphopisa) dan padat tanam sejumlah 20-25 ekor/m².

Pemberian pakan.
Ada beragam macam makanan yang bisa diberikan untuk kodok di kolam pembesaran persil ataupun di kolam pembesaran kodok remaja. Makanan percil sampai kodok dewasa berbentuk cincangan daging bekicot, cincangan daging ikan, ulat, belatung, serangga, mie, bakso dan beragam benih ikan dan ketam-ketaman kecil dan yang lain. Dapat juga diberikan makanan buatan, dengan meramu makanan buatan kita dapat menyusun cocok dengan tingkat umur kodok, yang kadang-kadang sukar dikerjakan seandainya kita memberinya makanan yang segera didapat dari alam. Karena jadi masalah yang kerap dialami layaknya ukuran makanan semakin besar dari lebar bukaan mulut kodok tak perlu terjadi lagi.

Hama dan penyakit.

Penyakit, hama dan penyebabnya
Penyakit kodok biasanya dikarenakan oleh serangan jamur dan bakteri. Paha kaki berwarna merah, luka dan kulit melepuh yaitu penyakit yang menyerang kodok yang berusia 1-2 bln., menular dan menyerang sistem saraf, hingga akan mati didalam lebih dari satu jam.

Pencegahan serangan penyakit dan hama
Bakteri dapat menyerang kecebong, gejalanya ekor luka dan berwarna putih. Penanggulangannya memisahkan kecebong yang diserang, kolam dibersihkan dengan pk, dosis 0, 05 gram/ liter 15 hari sekali, janganlah berikan makanan yang kandungan proteinnya melebihi dosis 10–15% lantaran perut kodok akan jadi kembung. Penyembuhan dengan antibiotika streptomisin/tetrasiklin, obat luar dengan pemakaian betadine, atau direndam didalam nacl 0, 15 gram/liter air sepanjang 30 menit, diulang sampai 4 kali.

Pemberian vaksinasi dan obat
Penyembuhan kaki merah dan bisul pada kodok, memandikan kodok didalam larutan nifurene 50–100 gram/m² air, atau dengan suntikan teramisin 25 mg/kg, atau streptomycin 20 mg/kg berat kodok. Penyakit dubur keluar diobati dengan langkah pisahkan dan istirahatkan 2–3 hari dan tidak diberi makan. Penyakit yang lain yaitu dubur keluar (ambaien) pada percil (kodok muda). Buat mengatasinya, populasi tidak bisa sangat padat dan kolam kudu bersih dan pemberian kandungan kalori didalam makanan tidak bisa melebihi dosis 3400 cl/kg makanan.

Panen.

Hasil utama
Hasil utama yang dihasilkan yaitu dagingnya.

Hasil tambahan
Namun hasil tambahan yang bisa diperoleh yaitu mengolah limbah hasil pemotongan untuk jadikan silase ; dengan penambahan propionat dan asam formiat dengan jalur digiling berbarengan sama jadi makanan untuk ternak ini tahan sampai 2 bln. Pada suhu masih. Hasil sampingan yang lain yaitu dengan jadikan tepung, di mana kandungan mineral dan proteinnya masih cukup tinggi untuk jadikan bahan tambahan pakan ternak. kodok yang tidak dijual/afkir bisa diambil hiphofisanya untuk proses pemijahan selanjutnya.

Penangkapan
Sebelum saat disiangi, umumnya kodok-kodok tersebut diletakkan pada penampungan. area penampungan kodok dapat berbentuk kotak kayu atau bak semen yang drainasenya lancar.

Pascapanen
Proses penanganan pasca panen juga amatlah gampang. Untuk melindungi supaya kodok terus hidup dan segar, jadi kita dapat memakai karung goni atau tas kain yang dibasahi. Pengangkutan sangat aman dikerjakan pada pagi hari atau sore hari. Seandainya pengangkutan dikerjakan untuk jarak jauh jadi butuh dibuatkan kotak kayu yang didesain dengan spesial, dan kapasitasnya sesuai dengan besarnya kotak kayu tersebut.

Sumber :
http://beternak.net/cara-beternak-katak-lembu

Thursday, January 3, 2013

Menangguk Untung dari Budidaya Katak Lembu

Hujan buatan tampak mengguyur kawanan katak di dalam kolam-kolam berukuran 5 x 5 meter. Asal tahu saja, katak-katak tersebut bukanlah katak biasa. Kumpulan katak yang jumlahnya mencapai 30-an ekor tersebut lebih dikenal dengan katak lembu atau bullfrog. Katak jenis ini merupakan salah satu komoditi ekspor andalan. Jika pintar mengelolanya, seorang pengusaha katak bisa mendapatkan untung yang sangat lumayan.

Nah, Kurniawan yang merupakan salah satu pembudidaya katak lembu sudah membuktikan hal ini. Pegawai dinas pekerjaan umum Sragen ini sudah lima tahun nyambi sebagai pembudidaya bullfrog. Kurniawan melihat peluang budidaya bullfrog sangat baik karena termasuk komoditas yang masih jarang dengan pangsa pasar tertentu.

Meski demikian, untuk terjun ke dalam bisnis ini memang membutuhkan ketelatenan khusus. Kurniawan sendiri membudidayakan bullfrog di dalam 40 kolam. Dari kolam tersebut, rata-rata setiap bulannya Kurniawan mampu menjual sampai 1,5 kuintal bullfrog yang harganya saat ini mencapai Rp 44.000 rupiah perkilo. "Kalau musim kemarau seperti sekarang, harganya cukup mahal. Tapi harga stabilnya antara Rp 32.000 - 35.000 rupiah,” jelas Kurniawan.

Menurut Kurniawan, pasar bullfrog saat ini masih terbuka lebar. “Saya cukup kesulitan untuk memenuhi permintaan pasar yang besar," jelasnya. Itu sebabnya, selain menjual produksi sendiri, ia juga menjadi pengepul dari daerah sekitarnya yang merupakan para pembudidaya skala kecil. Biasanya, para pengepul datang langsung dari Surabaya, Semarang dan Jakarta. Dengan demikian, dalam sebulan Kurniawan bisa menjual 2- 5 kuintal bullfrog.

Kurniawan sendiri pernah menjajal pangsa luar negeri. Akan tetapi ia merasa kesulitan untuk memenuhi kontinuitas produksi. Ia mengakui, harga untuk ekspor lebih mahal dengan kisaran 150 % - 200 % dari harga dalam negeri. "Dulu, dalam sehari, saya harus memenuhi 50 kg bullfrog. Itupun harus ukuran 1-1,5 kilo. Tapi saya keteteran, " katanya.

Sayang, Kurniawan tidak bisa memastikan berapa pengeluarannya untuk operasional. Yang pasti, pakan untuk bullfrog tidak terlalu mahal. " Bullfrog jenis bludru kami beri makan cacing sutera atau kutu air. Sedangkan precil biasanya diberi dedak, lalu yang besar kami beri konsentrat, jangkrik hidup atau belalang," paparnya.

Selain kurniawan, di kawasan Tangerang pun ada seorang lagi pembudidaya katak lembu bernama Anho. Anho bilang, katak lembu yang ia budidaya ditujukan khusus untuk memenuhi pasar Jakarta dan sekitarnya. Diprediksi, bulan November nanti Anho, akan memanen kurang lebih 1000 ekor katak lembu. Menurut Anho, biaya operasional pemeliharaan katak lembu paling banyak digunakan untuk pakan. "Saya memberi pakan lele, sebulan mungkin sekitar 1000 ekor atau 30 kilogram, " kata Anho.

Sumber :
http://industri.kontan.co.id/news/menangguk-untung-dari-budidaya-katak-lembu

Wednesday, January 2, 2013

Teknik Budidaya Kodok Lembu

Kandang Pemeliharaan

Kandang pemeliharaan untuk budidaya kodok lembu harus memiliki karakter dapat melindungi kodok lembu dari sinar matahari (ada atap) dan mampu mengalirkan air secara kontinyu dan membuang limbah budidaya secara sempurna.

Kontruksi kandang pemeliharaan pada umumnya adalah sebagai berikut.
1. Bentuknya persegi panjang (2m x 3m x 1m).
2. Jumlahnya tergantung kepada skala usahanya.
3. Kandang pemeliharaan terdiri dari beberapa bagian yaitu bak, pagar, dan atap.
4. Bagian bak dibuat dari tembok setinggi 10 – 30 cm dan dilengkapi dengan lantai yang licin agar kodok lembu tidak mudah lecet, untuk itu lantai harus di plester dan dibuat landai ke arah saluran lubang pengeluaran.
5. Pemasukan air melalui keran atau dengan paralon yang sudah dilubangi melewati kandang dengan diamater 4 – 6 mm atau lebih besar dari batang korek api. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengatur debit air yang masuk kedalam kandang. Keran-keran tersebut dihubungkan langsung ke bak penampungan air dengan paralon ukuran 3/4 inchi.
6. Bagian pembuangan air dibuat didasar kandang dan langsung dihubungkan dengan saluran pembuangan.
7. Tepi kandang diberi pagar (dari belahan bambu setinggi 70 – 90 cm) dan bagian atas ditutup dengan atap dari rumbia yang murah dan tidak menimbulkan fluktuasi suhu terlalu besar.
8. Lantai tempat ini diisi dengan air yang tingginya disesuaikan dengan besarnya kodok lembu yang dipelihara (2 – 4 cm).

Kesesuaian Lokasi
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam budidaya kodok lembu harus dilakukan pemilihan lokasi yang baik. Lokasi yang baik tersebut harus memenuhi SBR (Standar Biological Requirement) sehingga sesuai dengan sifat biologisnya. Selain syarat biologis juga harus memenuhi pertimbangan ekonomis dan sosial.

Secara teknis, lokasi budidaya kodok lembu harus memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut.
1. Dekat dengan sumber air, tetapi bukan merupakan daerah banjir dan bisa mengalirkan air dengan system gravitasi, sehingga menghemat biaya pompa.
2. Kualitas airnya baik secara berkesinambungan dan tidak tercemar oleh limbah industri dan logam berat.
3. Jauh dari keramaian dan suasana ribut.
4. Lebih bagus pada tempat yang teduh (terlindung oleh sinar matahari)

Parameter-parameter Kualitas Air yang Harus Diperhatikan dalam Budidaya Kodok Lembu (Boyd, 1982)
1. Suhu air 23,0 – 27,0 (oC)
2. PH 7 – 8
3. Oksigen 2 – 4 (ppm)
4. CO2 2,6 – 5,6
5. NH3 0,4 – 3,34 (mg/l)
6. Alkalinitas 50 – 500 (mg/l)

Selain persyaratan diatas, kualitas air juga harus memenuhi persyaratan lain, diantaranya adalah warna air, kekeruhan, dan sifat biologi. Warna air yang baik untuk pemeliharaan berudu adalah hijau cerah (banyak mengandung plankton akan tetapi cahaya masih bisa masuk kedalam perairan), sedangkan untuk kegiatan seperti pemeliharaan induk, pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan percil, dan pembesaran percil memerlukan perairan yang bersih. Kekeruhan yang yang disebabkan oleh partikel terkoloid dan tersuspensi dapat diukur dengan sechi disk,. Kekeruhan yang baik untuk kodok lembu adalah berkisar antara 20 – 40 cm, kecuali pemijahan dan penetasan air harus jernih (> 60 cm).

1. Air mengalir kontinu sepanjang tahun.
2. Jenis tanahnya baik dan tidak poros. Jenis tanah yang baik yaitu tanah terapan dengan kandungan liat 30 persen dan jenis tanah liat atau lempung berpasir dengan perbandingan 3 : 2, karena tanah ini mampu menahan bangunan dan massa air dalam jumlah besar.
3. Topografi tanah harus cocok untuk budidaya kodok lembu. Topografi yang cocok ada dua macam, yaitu lembah yang dasarnya mendatar di salah satu lerengnya dan lembah yang dasarnya mendatar di kedua lerengnya dengan kemiringan 1-3 persen. Lembah tersebut dilengkapi dengan sumber air di tengahnya, sehingga mudah dibuat kolam dan kandang dengan perairan secara peralel. Ketinggian tempat yang ideal untuk budidaya kodok lembu adalah 400 – 800 m dari permukaan laut.
4. Luas lahan yang tersedia harus sesuai dengan skala usaha.
5. Secara sosial lokasi budidaya kodok lembu harus memenuhi kriteria seperti berikut ini.
-- Dapat menjaga kelestarian lingkungan.
-- Menggunakan sumberdaya alam yang ada di sekitarnya.
-- Dapat menciptakan lapangan kerja atau memakai tenaga kerja setempat.
-- Keamanan terjamin.
6. Di lain pihak secara ekonomis lokasi budidaya kodok lembu harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut.
-- Dekat dengan daerah pemasaran atau pusat informasi pasar.
-- Tersedia prasarana jalan yang baik dan sarana angkutan yang memadai sehingga akan memudahkan dalam mengangkut sarana produksi dan hasil produksi.
-- Sarana produksi mudah didapat.
-- Sarana perhubungan seperti telpon dan lainnya tersedia dengan baik dan lancar.

Standar Proses Produksi

Untuk mencapai sasaran produksi yang direncanakan dalam satu siklus produksi yang dijalankan adalah atas dasar satuan perencanaan yang mengikuti pola sebagai berikut.

1. Persiapan kandang pemeliharaan (dua sampai lima hari).
2. Masa budidaya kodok lembu 120-150 hari.
3. Pergantian air dilakukan setiap hari dan kontinu (mengalir) melalui keran atau paralon yang sudah dilubangi.
4. Kebutuhan pakan harian adalah 2 – 4 persen bobot biomasa/hari dan komposisi perbandingan antara pakan alami dan buatan disesuaikan dengan umur pemeliharaan kodok lembu.
5. Dilakukan penyortiran (grading) dalam kurun waktu tertentu untuk menghindari terjadinya akibat dari perbedaan ukuran kanibalisme antar kodok lembu itu sendiri.
6. Kebutuhan pompa (jet pump) untuk memompa air diwaktu kekeringan.
7. Sasaran produksi yang dikaitkan dengan tingkat kelangsungan hidup kodok lembu, ukuran udang dan konversi pakan.

Tingkat kelangsungan hidup kodok lembu dengan pemeliharaan yang baik adalah berkisar antara 60- 70 persen, dengan konversi pakan sekitar dua. Dan target produksi adalah kodok lembu berukuran 200-250 g.

Sumber :
http://binaukm.com/2010/06/teknik-budidaya-kodok-lembu/

Peluang Usaha Budidaya Kodok / Katak Lembu

Salah satu komoditas perikanan yang memiliki prospek cukup baik untuk dikembangkan adalah kodok. Paha kodok merupakan sumber bahan pangan yang memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi dan rasa yang enak, sehingga tak mengherankan jika permintaan kodok untuk konsumsi baik dalam negeri maupun luar negeri setiap tahunnya terus meningkat, sedangkan pasokannya terus menurun. Penurunan ekspor kodok tersebut terjadi karena berkurangnya stok kodok dari alam.

Pada tahun 1974-1978 Indonesia pernah menjadi pengekspor kodok ketiga terbesar setelah India dan Bangladesh, bahkan pada tahun 1979 menjadi pemasok kodok kedua terbesar ke negara-negara Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) yaitu sebesar 34 persen dari total impor negara-negara tersebut, sedikit dibawah India (38 persen) (Anonimous, 1990). Pada saat itu kodok yang diekspor merupakan hasil penangkapan dari alam, seperti sawah, danau, sungai, dan perairan lainnya. Tahun 1985 India melarang penangkapan kodok dari alam karena dapat merusak keseimbangan lingkungan demikian juga Bangladesh dan Indonesia. Menghadapi masalah tersebut, maka mulai berkembanglah usaha budidaya kodok, terutama kodok asli perairan Indonesia. Namun usaha-usaha itu tidak berhasil karena kodok-kodok tersebut sulit beradaptasi dengan lingkungan budidaya.

Pada tahun 1980 Indonesia mendatangkan jenis kodok asal Amerika Utara dari Taiwan yang disebut bullfrog. Kodok tersebut diberi nama kodok lembu di Indonesia karena suaranya yang seperti lembu. Kodok lembu (Rana catesbeiana) ternyata memiliki berbagai kelebihan jika dibandingkan beberapa kodok asli Indonesia. Kelebihan tersebut diantaranya mudah beradaptasi dengan lingkungan budidaya, ukurannya lebih besar, pertumbuhannya lebih cepat (dapat mencapai bobot 500-600 gram), tidak tergantung pada pakan alami atau dapt diberi pakan, dan kandungan gizinya lebih tinggi jika dibandingkan dengan kodok-kodok lain.

Kodok lembu memiliki kandungan protein sebesar 19,76 persen, lemak 0,63 persen, air 75,63 persen, dan abu 2,36 persen. Sementara jenis kodok konsumsi lainnya yang diekspor mengandung protein 15,23 persen, lemak 0,59 persen, air 80,59 persen, dan abu 3,38 persen (Anonimous, 1990). Kelebihan-kelebihan tersebut sangat memungkinkan kodok lembu dibudidayakan di Indonesia. Sejak saat itu, dimulailah budidaya kodok lembu yang dimulai dengan ujicoba yang dilakukan di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Sukabumi, Jawa Barat. Ujicoba tersebut dinilai cukup berhasil dan kemudian disebar luaskan ke daerah-daerah lain di tanah air.

Namun, jumlah masyarakat yang membudidayakannya masih sedikit dan teknologinya masih belum banyak dikuasai sehingga belum mampu meningkatkan produksi kodok untuk menggantikan kodok dari hasil tangkapan. Dengan demikian budidaya kodok lembu ini masih cukup potensial untuk berkembang. Berkembangnya budidaya kodok lembu ini diharapkan bisa meningkatkan produksi dalam negeri, menyerap banyak tenaga kerja dan meningkatkan aktivitas usaha.

Sumber :
http://binaukm.com/2010/04/peluang-usaha-budidaya-kodok-katak-lembu/

Friday, April 27, 2012

BUDIDAYA KATAK

BUDIDAYA KATAK




1.
SEJARAH SINGKAT
Budidaya kodok telah dilakukan di beberapa negara, baik negara beriklim panas maupun beriklim 4 musim. Tercatat negara-negara Eropa yang telah membudidayakan kodok antara lain : Prancis, Belanda, Belgia, Albania,
Rumania, Jerman Barat, Inggris, Denmark dan Yunani, Amerika Serikat dan Meksiko. Sedangkan di Asia, Cina, Bangladesh, Indonesia, Turki, India dan Hongkong yang telah membudidayakan kodok.

Sejarah kodok tidak diketahui asalnya, karena hampir ditemukan di manamana, karena kemampuannya untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitarnya. Kodok yang banyak dibudidayakan di Indonesia (Rana catesbeiana ) berasal dari Taiwan, kendati kodok itu semula berasal dari Amerika Selatan.
2. SENTRA PETERNAKAN
Mulanya uji coba budidaya kodok dilakukan di Klaten (Balai bibit ikan), yang kemudian meluas ke Jawa tengah. Di Jawa Barat pembudidayaan kodok banyak ditemui di daerah pesisir Utara, disamping membudidayakan kodok masyarakat pesisir Utara juga menangkap dari alam. Kemudian di Sumatera Barat dan Bali juga merupakan sentra pembudidayaan kodok.
3. J E N I S
Kodok tergolong dalam ordo Anura, yaitu golongan amfibi tanpa ekor. Pada ordo Anura terdapat lebih dari 250 genus yang terdiri dari 2600 spesies.

Terdapat 4 jenis kodok asli Indonesia yang di konsumsi oleh masyarakat kita yaitu:

1)
Rana Macrodon (kodok hijau), yang berwarna hijau dan dihiasi totol-totol coklat kehijauan dan tumbuh mencapai 15 cm.
2)
Rana Cancrivora (kodok sawah ), hidup di sawah-sawah dan badannya dapat mencapai 10 cm, badan berbercak coklat dibadannya.
3)
Rana Limnocharis (kodok rawa), mempunyai daging yang rasanya paling enak, ukurannya hanya 8 cm.
4)
Rana Musholini (kodok batu/raksasa). Hanya terdapat di Sumatera, terutama Sumatera Barat. mencapai berat 1.5 kg. Dan panjang mencapai 22 cm.
4. MANFAAT
Daging kodok adalah sumber protein hewani yang tinggi kandungan gizinya. Limbah kodok yang tidak dipakai sebagai bahan makanan manusia dapat dipakai untuk ransum binatang ternak, seperti itik dan ayam. Kulit kodok yang telah terlepas dari badannya bisa diproses menjadi kerupuk kulit kodok. Kepala kodok yang sudah terpisah dapat diambil kelenjar hipofisanya dan dimanfaatkan untuk merangsang kodok dalam pembuahan buatan. Daging kodok dipercaya dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
5. PERSYARATAN LOKASI
1)
Ketinggian lokasi yang ideal untuk budidaya kodok adalah 1600 dpl.
2)
Tanah tidak terlalu miring namun dan tidak terlalu datar, kemiringan ideal 1- 5%, artinya dalam jarak 100 m jarak kemiringan antara ujung-ujungnya 1-5 m.
3)
Air yang jernih atau sedikit tercampur lumpur tersedia sepanjang masa. Air yang jernih akan memperlancar proses penetasan telur.
4)
Kodok bisa hidup di air yang bersuhu 2–35 drajat C. Suhu saat penetasan telur ialah anata 24–27 derajat C, dengan kelembaban 60–65%.
5)
Air mengandung oksigen sekitar 5-6 ppm, atau minimum 3 ppm. Karbondioksida terlarut tidak lebih dari 25 ppm.
6)
Dekat dengan sumber air dan diusahakan air bisa masuk dan keluar dengan lancar dan bebas dari kekeringan dan kebanjiran.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
6.1.
Penyiapan Sarana dan Peralatan
1)
Kolam
Dalam proses pembuatan kolam, tidak boleh hanya menggali atau menimbun saja melainkan harus menggabungkan keduanya sehingga akan mendapatkan bentuk dan konstruksi kolam yang ideal.

Untuk memasukkan air ke dalam kolam diperlukan saluran yang konstruksinya dibuat dari pasangan bata merah atau batako yang diperkuat dengan semen dan pasir. Bentuk dari saluran ini biasanya trapesium terbalik dan pada beberapa tempat pemasukan air ke kolam dibuat kobakan kecil untuk menjebak air agar mudah masuk kedalam kolam-kolam.


Kolam yang diperlukan antara lain: kolam perawatan kodok, kolam penampungan induk sebelum dikawinkan, kolam pemijahan, kolam penetasan, kolam perawatan kecebong, kolam pembesaran percil dan kolam pembesaran kodok remaja. Kebutuhan kolam ini masih ditambah dengan kolam pemeliharaan calon induk.

a.
Kolam Perawatan Kodok
Luasnya 15 meter persegi dengan ukuran 3 x 5 m, yang terdiri dari dinding tembok 0,40 m dan dinding kawat plastik setinggi 1 m, lantainya terbuat dari semen dan bata yang terdiri dari 2/3 bagian kolam terisi air setinggi 10-15 cm dan 1/3 bagian kering.
b.
Kolam Pemijahan.
Kolam dibuat dari semen dan diatasnya dinding kawat plastik. Kedalaman air di kolam ini sekitar 0,30–0,40 m dan ditengahnya dibuatkan daratan. Padat pemeliharaan 15 ekor setiap meter perseginya, dengan perbandingan tiga betina dan satu jantan. Supaya lebih nyaman, sebaiknya lantai daratan tengah tidak berlumpur, dan kolam ditanami enceng gondok. Sediakan makanan berupa ikan kecil, ketam dan bekicot Masa kawin ditandai dengan suara merdu. Tak lama kemudian, telur mereka mengambang di air kolam dan segera dipindahkan ke kolam penetasan.
c.
Kolam Penetasan
Kolam penetasan dibuat beberapa buah, dari tembok dengan air sedalam 30 cm dan air mengalir atau diberi aerasi yang luas. Luas kolam seluruhnya 10 m2 .
d.
Kolam Kecebong
Terdiri dari beberapa kolam yang masing-masing luasnya berkisar anta 5 m2–6 m2, dengan dasar lantai terbuat dari semen.
e.
Kolam Kodok Muda
Di kolam ini kodok yang dipelihara berumur kurang dari 2 bulan. Dibuat beberapa buah dengan masing-masing luasnya 15 m2, dengan dinding tembok dan kawat. Lantai miring dengan daerah air 1/3 bagian dengan kedalaman 15–35 Cm.
f.
Kolam Kodok Dewasa.
Pada kolam ini kodok sudah berusia antara 2–6 bulan. Kolam yang diperlukan terdiri dari 2, dengan masing masing luas kira–kira 20 m2 , dengan konstruksi dasar dan dinidng tembok dan kawat. Kedalaman air yang diperlukan antara 30–40 Cm.
2)
Mempersiapkan Kolam Produksi
Bila lantai dasar kolam terbuat dari tanah, dasar kolam diolah dan dicangkulcangkul dan ditebari pupuk sampai dianggap siap huni. Kolam dibiarkan dulu tidak terpakai selama sebulan. Selama itu kolam dimasukkan air, didiamkan dan dikeluarkan berulang-ulang. Persiapkan alat-alat untuk membuat hujan buatan, baik dari drum bekas maupun dengan menggunakan springkel karena untuk proses perkawinan kodok biasanya terjadi pada masa penghujan.

Sebaiknya kolam ditanami teratai, eceng gondok, genjer dan ganggang yang berfungsi untuk tempat biang kodok bercumbu rayu dan menempelkan telurnya serta meningkatkan kualitas air kolam dan mempertinggi kandungan oksigen.
6.2.
Pembibitan
Untuk pembudidayaan kodok yang banyak dicari adalah dari jenis kodok banteng Amerika (Bull frog), diamping rasanya enak juga beratnya bisa sampai 1,5 kg. Bisa juga jenis kodok batu dari Sumatera Barat yang sampai saat ini belum dibudidayakan secara optimal, karena masyarakat masih mengambilnya dari alam.

Adapun syarat ternak yang baik adalah bibit dipilih yang sehat dan matang kelamin. Sehat, tidak cacat, kaki tidak bengkok dan normal kedudukannya, serta gaya berenang seimbang. Pastikan kaki kodok tidak mengidap penyakit kaki merah ( red legs ).


1) Pemilihan Bibit Calon Induk
Pilihlah kodok yang sehat dan berukuran besar. Disamping itu perhatikan juga tanda-tanda kelamin sekundernya. Pisahkan induk berdasarkan jenis kelaminnya. Pemisahan dilakukan sekitar 1–2 hari dimaksudkan untuk lebih merangsang nafsu diantara mereka apabila saatnya mereka dipertemukan.

Untuk induk-induk yang hendak dikawinkan sebaiknya diberikan makanan cincangan daging bekicot yang masih segar dan makanan buatan lainnya.

2) Perawatan Bibit dan Calon Induk
Induk jantan dan betina berumur 4 bulan disuntik perangsang pertumbuhan Gonadotropin intramuskular dengan dosis 200-250 IU/ekor/bulan.
3)
Sistem Pemijahan
a.
Secara Alami
Induk jantan dan betina yang telah dipisah selama 1-2 hari disatukan di kolam pemijahan. Ikan liar dapat mengganggu hasil pemijahan. Perhatikan agar telur kodok tidak ikut terbuang air pembuangan. Di sore atau pagi hari pada saat suhu mulai menurun, barulah kita perlu membantu kelancaran proses pemijahan, yaitu dengan membuat hujan buatan.
b.
Sistem Hipofisasi
Cara mutakhir untuk memijahkan kodok adalah dengan cara sistem kawin suntik menggunakan ekstrak kelenjar hipofisa untuk merangsang kodok agar kawin sesuai waktu yang kita inginkan. Dengan sistem ini kita bisa mengintensifkan pembenihan, mengurangi kematian, merawat telur-telur
kodok yang telah dibuahi dalam tempat tersendiri, memberi jaminan bahwa telur-telur akan terbuahi oleh sperma seluruhnya dan tidak memerlukan hujan buatan.
Penyuntikan pada tubuh betina lazimnya pada punggung, rongga perut dan bagian kepala. cara penyuntikan pada rongga perut banyak dipilih.
4) Reproduksi dan Perkawinan
Kodok yang hendak disuntik ditampung pada akuarium yang diberi sedikit air dan ditutup dengan kawat kasa untuk memudahkan penangkapan. kodokkodok tersebut telah cukup umur dan dalam keadaan matang telur. Saat penyuntikan kodok dibalut dengan kain hapa agar tidak meronta.

Kodok yang telah disuntik kemudian dilepas dalam akuarium lain dan dipantau setiap jam. Setelah 12 jam, kodok tadi disuntik kembali agar mereka mampu bertelur seluruhnya. Setelah yang betina 2 kali disuntik dan menunjukkan akan bertelur, maka kita mempersiapkan testis dari induk jantan. Sperma dikeluarkan dari testis dengan cara memotongnya dengan jarum kecil yang tajam dan dimasukkan ke cawan petri yang sudah diisi dengan air kolam yang bersih. Setelah air dalam cawan menjadi keruh dan testis sudah kosong, maka cairan testis dibiarkan selama 10 menit dalam

6.3.
Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan pada setiap tahap pertumbuhan kodok, Pertumbuhan dan kesehatan kodok terrgantung pada makanan dan kecocokan tempat tinggalnya. Kodok diberi makan 1 kali sehari, air di kolam diganti dan dibersihkan seminggu sekali.
1) Sanitasi dan Tindakan Preventif
Telur yang sudah dibuahi, dipindahkan pada kolam penetasan. Kolam dibersihkan dari hama dan kotoran sebelum digunakan. Telur harus dipisahkan dari induknya sehingga telur tidak terganggu proses penetasannya dan tidak dimakan oleh induknya. Memindahkan telur jangan sampai pecah sarangnya atau lendirnya. Telur-telur akan menetas setelah 48–72 jam pada suhu air 24–27 derajat C. Bila sudah menetas dipelihara pada kolam yang sama selama 10 hari.
2) Perawatan Ternak
Kodok muda yang telah mengalami metamorphose ditempatkan pada kolam permanen. Pemasukan dan pengeluaran air harus diberi penyaring untuk menghindari hama dan mencegah kodok lepas ke peraiaran umum. Padat penebaran 50-100 ekor/m2. Bila kita memelihara jenis kodok banteng yang tidak suka makanan yang tidak bergerak, makanan harus diletakkan dibawah aliran air/pancuran. Setelah berumur 3 bulan, kodok diseleksi berdasarkan kaki belakang, kulit dan ukuran badannya. Jumlah yang di seleksi 20% dari total dan dipindahkan ke kolam calon induk, sedangkan sisanya tetap dipelihara sampai masa panen pada umur 4-5 bulan.

Kodok dewasa (matang gonada) untuk bibit unggul, baik jantan maupun betina di suntik dengan kelenjar hiphopisa kodok sebanyak 1 dosis. Penyuntikan dilakukan 1 bulan sekali (bila memakai sistem hiphopisa) dan padat tanam sebanyak 20-25 ekor/m2.

3) Pemberian Pakan
Terdapat berbagai macam makanan yang dapat diberikan untuk kodok di kolam pembesaran persil maupun di kolam pembesaran kodok remaja. Makanan percil sampai kodok dewasa berupa cincangan daging bekicot,cincangan daging ikan, ulat, belatung, serangga, mie, bakso dan berbagai benih ikan serta ketam-ketaman kecil dan lainnya.
Dapat juga diberikan makanan buatan, dengan meramu makanan buatan kita bisa menyusun sesuai dengan tingkat umur kodok, yang terkadang sulit dilakukan apabila kita memberinya makanan yang langsung didapat dari alam. Dengan demikian maka problem yang sering dialami seperti ukuran makanan lebih besar dari lebar bukaan mulut kodok tidak perlu terjadi lagi.
7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1.
Penyakit, Hama dan Penyebabnya
Penyakit kodok umumnya disebabkan oleh serangan jamur dan bakteri. Paha kaki berwarna merah, luka dan kulit melepuh adalah penyakit yang menyerang kodok yang berumur 1-2 bulan, menular dan menyerang sistem saraf, sehingga akan mati dalam beberapa jam.
7.2.
Pencegahan Serangan Penyakit dan Hama
Bakteri bisa menyerang kecebong, gejalanya ekor luka dan berwarna putih. Penanggulangannya dengan memisahkan kecebong yang terserang, kolam dibersihkan dengan PK, dosis 0,05 gram/ liter 15 hari sekali, jangan memberikan makanan yang kandungan proteinnya melebihi dosis 10–15% karena perut kodok akan menjadi kembung. Pengobatan dengan antibiotika streptomisin/tetrasiklin, obat luar dengan penggunaan betadine, atau direndam dalam NaCl 0,15 gram/liter air selama 30 menit, diulang sampai 4 kali.
7.3.
Pemberian Vaksinasi dan Obat
Pengobatan kaki merah dan bisul pada kodok, dengan memandikan kodok dalam larutan Nifurene 50–100 gram/m2 air, atau dengan suntikan teramisin 25 mg/kg, atau streptomycin 20 mg/kg berat kodok. Penyakit dubur keluar diobati dengan cara pisahkan dan istirahatkan 2–3 hari dan tidak diberi makan. Penyakit lainnya adalah dubur keluar (ambaien) pada percil (kodok muda). Untuk mengatasinya, populasi tidak boleh terlalu padat dan kolam harus bersih dan pemberian kadar kalori dalam makanan tidak boleh melebihi dosis 3400 cl/kg makanan.
8. P A N E N
8.1.
Hasil Utama
Hasil utama yang dihasilkan adalah dagingnya
8.2.
Hasil Tambahan
Sedangkan hasil tambahan yang dapat diperoleh adalah dengan mengolah limbah hasil pemotongan untuk dijadikan silase; dengan penambahan propionat dan asam formiat dengan jalan digiling bersama sama maka makanan untuk ternak ini tahan hingga 2 bulan pada suhu sedang. Hasil sampingan lainnya adalah dengan dijadikan tepung, dimana kandungan mineral dan proteinnya masih cukup tinggi untuk dijadikan bahan tambahan pakan ternak. Kodok yang tidak dijual/afkir dapat diambil hiphofisanya untuk proses pemijahan berikutnya.
8.3.
Penangkapan
Sebelum disiangi, biasanya kodok-kodok tersebut ditempatkan pada penampungan. Tempat penampungan kodok bisa berupa kotak kayu atau bak semen yang drainasenya lancar.
9. PASCA PANEN
Proses penanganan pasca panen juga sangatlah mudah. Untuk menjaga agar kodok tetap hidup dan segar, maka kita bisa menggunakan karung goni atau tas kain yang dibasahi. Pengangkutan paling aman dilakukan pada pagi hari atau sore hari. Apabila pengangkutan dilakukan untuk jarak jauh maka perlu dibuatkan kotak kayu yang didesain secara khusus, dan kapasitasnya disesuaikan dengan besarnya kotak kayu tersebut.
10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
10.1.
Analisis Usaha Budidaya
Gambaran analisis ekonomi usaha budidaya kodok lembu (rana catesbeiana), untuk memperkirakan keuntungan yang akan diperoleh dan untuk menghindari pos-pos yang tidak penting.

Adapun usaha pembenihan kodok skala kecil 200 M2 dengan anggapan sebagai berikut:

a.
Luas Tanah : 200 m2
b.
Luas Kolam : 125 m2
- kolam penyimpanan induk: 9 m2- kolam induk jantan: 3m2
- kolam induk betina: 3 m2
- kolam pemijahan/perkawinan: 9 m2
- kolam penetasan: 8 m2
- kolam kecebong: 21 m2
- kolam percil: 20 m2
- kolam kodok dewasa: 30 m2
- saluran air dan lainnya: 22 m2
c.
Jumlah Induk.
- induk betina: 6 ekor, jantan: 4 ekor
- induk yang dikawinkan: 3 betina 2 jantanr
- telur yang dihasilkan sebanyak + 30,000 butir/pemijahan.
d.
Lama pemeliharaan: 5 bulan
e.
Frekuensi pemijahan: 3 kali / setahun
f.
Jenis makanan yang diberikan : cacing, belatung, anak ikan, cincangan bekicot, tepung dengan kadar protein + 35 %.

Sedangkan perkiraan analisis usaha ekonomi budidaya kodok sebagai berikut:

1)
Modal investasi


a.
pembangunan kolam/kandang 125 m2
Rp. 2.500.000,-

b.
alat-alat dan induk
Rp. 500.000,-




2)
Modal kerja ( operasional )


a.
Biaya tetap
- penyusutan bangunan ( 8 % )
Rp. 200.000,-


- penyusutan peralatan ( 20 %)
Rp. 100.000,-


- bunga modal ( 18 %)
Rp. 540.000,-


- upah ( 1 orang setahun )
Rp. 360.000,-

b.
Biaya variabel
- pakan kodok 4.500 kg @ Rp. 250,-
Rp. 1.125.000,-


- pakan kecebong 200 kg 2 Rp. 400,-
Rp. 80.000,-


- perbaikan kandang ( 5% )
Rp. 150.000,-


- sewa tanah
Rp. 35.000,-


- administrasi dan pemasaran
Rp. 200.000,-


- lain-lain
Rp. 292.500,-

Jumlah modal yang dibutuhkan
Rp. 6.082.500,-




3)
Penjualan


a.
Produksi percil 45.000 ekor * @ Rp. 100
Rp. 4.500.000,-

b.
Produksi kodok niaga** 2 x 1.500 @ Rp. 300
Rp. 900.000,-

Jumlah pemasukan
Rp. 5.400.000,-




4)
Biaya Operasional


a.
Biaya tetap
Rp. 1.200.000,-

b.
Biaya variabel
Rp. 1.882.500,-

Jumlah biaya operasional
Rp. 3.082.500,-




5)
Pendapatan bersih sebelum pajak
Rp. 2.317.500,-
6) Pajak 15 % Rp. 347.625,-




7)
Pendapatan bersih
Rp. 1.969.875,-




8)
P V
= 0,61




9)
Break event point ( B.E.P )
Rp. 1.843.317,90




10)
BC
= 1,75




11)
Waktu pengembalian kredit ( PPC )
= 1.5 tahun
10.2.
Gambaran Peluang Agribisnis
Kodok merupakan komoditi ekspor nonmigas yang cukup potensial. Sejak tahun 1969 Indonesia telah mengeskpor paha kodok ke berbagai negar. Bahkan Indonesia sebagai negara pengekspor paha kodok terbesar ketiga setelah India dan Bangladesh. Kini semakin langkanya kodok di alam akibat pemburuan besar-besaran sehingga semakin berkurangnya persediaan akan daging kodok. Hal ini menuntut diadakannya budidaya kodok secara intensif untuk menghasilkan daging kodok yang masih menjadi budidaya ekspor yang dapat memberikan keuntungan.